Jellyspotters
Guide & Walkthrough Game

Review DISTRAINT: Deluxe Edition

Game horor mainstream biasanya menggunakan beberapa elemen seperti jumpscare, environment detail yang dibuat semenyeramkan dan hantu. Tetapi, tidak semua game horror selalu menggunakan konsep menyeramkan seperti itu. Apalagi dengan populernya Psychological Horror akhir-akhir ini. Game indie yang benar-benar berhasil memberikan teror psikologis dalam storytelling dan sound design-nya, yaitu Distraint.

Distraint dirilis pada tahun 2015 untuk PC yang kemudian juga dirilis pada tahun 2016 untuk Android, sementara versi iOS serta Deluxe Edition di Android yang kemudian menyusul pada 2017. Game ini dihargai rp.30.999 di Steam serta Rp.65000 di Play Store (untuk edisi Deluxe) dan sekitar Rp.57000 di App Store.

Game ini adalah sebuah game 2D Adventure yang menceritakan seorang pria bernama "Price" yang bekerja untuk sebuah perusahaan yang berfokus untuk menyita properti dari orang-orang. Untuk mendapatkan partnership dengan perusahaan itu, ia diharuskan untuk menyelesaikan tugas yang amat sulit, yaitu mengusir seorang nenek tua, seorang penyendiri ditengah hutan dan seorang pecandu obat-obatan dari rumah mereka masing-masing.

Tema yang dibawakan oleh Distraint adalah untuk menunjukkan jarak antara ketamakan dan kemanusiaan. Apakah Price akan membuang kemanusiaannya untuk mendapatkan kekayaan?

Namun menariknya, meski begitu Price tidak pernah benar-benar digambarkan sebagai seorang villain. Dia tidak benar-benar mengincar kekayaan tanpa batas, ia cukup realistis. Price hanya menginginkan hidup yang lebih nyaman dengan sebuah mesin kopi yang masih berfungsi serta atap rumah yang tidak bocor.

Topik ini kemudian akan membawa Player pada sebuah dilema, dimana keinginan mendasar lumrah dan bukannya mengejar kekayaan semata itu akhirnya menggeser game ini menuju perspektif netral yang membuat Player bersimpati kepada Price dan korban dari tuntutan pekerjaannya secara bersamaan.
Distraint hampir tidak pernah memberikan rasa takut secara langsung kepada Player. Mereka menggunakan elemen horor untuk merepresentasikan perasaan bersalah yang muncul pada nurani Price.

Elemen yang diulang-ulang adalah kunjungan dari arwah orang tua Price dan gajah yang berlumuran darah. Mungkin terlihat biasa saja. Tapi mereka mengaturnya sedemikian rupa agar terasa berkesan. Terutama dengan bantuan dari sound effectnya.
Sound Design dari Distraint adalah salah satu hal yang harus disorot, berhasil memberikan perasaan menegangkan sekaligus cemas, atmosfir yang menghantui, suara yang disturbing, musik yang dramatis dan hal-hal kecil lainnya yang cukup detail. Menggambarkan dengan baik dunia tempat Price tinggal bersama dengan moral yang mengikatnya.

Sementara story-nya, kebanyakan berfokus pada usaha Price untuk menyita tiga properti tersebut. Tapi ada beberapa peristiwa tambahan untuk semakin menekankan kerusakan moral di dunia itu.

Gameplay kebanyakan hanya mengharuskan kamu berbicara dengan NPC dan sesekali menyelesaikan puzzle sederhana seperti saat mencoba menyalakan api unggun hingga mencari benda-benda tertentu.

Singkatnya, Distraint adalah sebuah game yang dibawakan dengan ringan tetapi memiliki tema yang berat, semua hal dibawakan dengan menarik yang sayangnya terasa begitu pendek.

Playtime dari Distraint sendiri sangatlah pendek hingga mungkin terasa agak mengecewakan. Hanya membutuhkan waktu 2 sampai 3 jam untuk menyelesaikan game yang dihargai cukup mahal ini. Kekurangan lainnya mungkin ada pada sedikit masalah grammar.

Sekilas, Distraint terlihat biasa saja. Tapi cukup layak untuk sebuah game adventure yang menggambarkan apa yang harus dibayar dari sifat ketamakan. Penggambaran horor yang digunakan untuk menunjukkan perasaan bersalah dari sang tokoh utama. Dan meskipun alurnya tidak cukup panjang, tapi game ini akan memberimu beberapa hal untuk dipikirkan lagi, bahkan setelah kamu menamatkannya.

Posting Komentar